Minggu, 26 Desember 2010

Bima Sakti di dalam diriku

Kerang kecil yang kupungut di pantai.
Kenapa dia berbentuk melingkar?
Yang memberitahu jawabannya adalah kamu.
Yaitu karena kilau bima sakti di malam hari.
Dan kilaunya membentuk kerang.

Telingaku juga seperti kerang itu.
Kupingku ingin mendengar suaramu.
Tapi ternyata kamu berada jauh di langit.

Beraneka bunga yang mekar di hutan.
Kenapa mereka begitu berwarna-warni.
Yang memberitahu jawabannya adalah kamu.
Itu karena matahari yang menyinari bumi dengan sinarnya.
Bunga itu terpesona dengan cahayanya.
Dan bunga-bunga yang melihat cahaya itu diliputi kecerahan dan memekarkan kelopaknya.

Sebenarnya cintaku juga mekar.
Tapi karena kau tak memandikanku dengan sinarmu.
Aku hanya menjadi sekuntum bunga tanpa warna.
Keajaiban di hatiku ialah ketika aku sedang mengingat kamu dalam kesunyian.
Seperti bima sakti membentuk lingkaran.




Kamis, 25 November 2010

Semoga Raga Selalu Menjaga


Satu-satu…
Kuuraikan kenangan tentangmu
Seiring waktu yang terus menjauh

Serta dirimu yang terus menghindariku
Satu-satu…
Kususun lagi rencana kehidupanku

Takkan pernah mati
Rasa dalam hati
Walau berat 'tuk sendiri
Jiwaku telah memilih
Semua menjadi kenangan
Rapi tersimpan…dibalik kenyataan


Sedang aku terus berjalan
Menelusuri makna-makna kehidupan
Kadang rindu dengar suaramu
Kadang ingin lihat rautmu
Sesekali haus belai lembutmu
Terus saja dahaga untuk kasihmu


Cinta…tetap ada disana
Terjaga indah, tak memaksa
Terangkum suci dibalik jiwa
Semoga raga selalu menjaga

Tanpa kamu…serta cinta yang dulu
Hanya kenangan yang terus terburai waktu




Untuk Semua

Terima kasih untuk semua manis yang pernah kita jalani bersama. 
Terima kasih untuk senantiasa jujur sejak mula kita menjalin rasa sayang hingga akhirnya terasa menyesakkan dada.
Tidak ada yang salah dengan kejujuranmu, tidak pula salah dengan cinta yang telah berlalu.
Tidak akan pernah ada dendam, atau sakit hati apapun namanya. 
Kekecewaan hanyalah urusan bagaimana kenyataan sekarang bisa bertahan.
Berikan aku kekuatan untuk berjalan di kegelapan hidup tanpamu.
Berikan aku kekuatan untuk bertahan di kehidupan tanpa ada kamu.





Selasa, 09 November 2010

Menunggu Lebih Menyakitkan

Cobalah kau camkan satu hal ini dariku.
Bagiku, keberadaanmu itu sudah bukan lagi sekedar orang biasa yang kutemui sekilas di pinggir jalan.
Lalu, kaupun sudah menjadi orang yang sangat berharga bagiku.
Rasa sakit yang kau rasakan juga menjadi rasa sakit yang akan kurasakan.
Karena itulah aku menunggumu.
Meski menunggu itu lebih sakit jika dibandingkan saat kau meninggalkan aku.
Meskipun begitu aku akan tetap menunggumu.
Menunggumu selalu dengan tersenyum.




Kau Tidak Akan Pernah Mencintaiku

Maaf, aku akan menutup pintu hatiku.
Mungkin aku tak akan membukanya lagi.
Setidaknya dalam waktu dekat ini.
Aku tak tahu apakah ini hanya untukmu atau juga yang lain.
Kau membohongiku.
Kau menduakanku.
Kau sakiti aku dengan sangat menyakitkan.
Aku lelah sekali.
Menunggu dan mencintaimu.
Aku lelah sekali.
Kau tahu aku menyayangimu, tapi kau tetap tak peduli.
Walau kadang kau membuatku tertawa dan bahagia, kau tidak mencintaiku.
Mungkin kau tidak pernah mencintaiku.
Mungkin saja kau tidak akan pernah mencintaiku.




Aku Tak Tahu

Setiap aku melihatmu.
Hatiku selalu kacau.
Sekilas kukira aku membencimu.
Yah, kau memang masa laluku.
Tapi aku tak tahu.
Aku tak mengerti mengapa setiap melihatmu aku begitu ingin memelukmu.
Aku merasa sangat merindukanmu.
Hanya kau yang paling kusayangi.
Tidak ada yang lain yang selalu kucintai selain kamu.
Walau kau sangat jauh sekali.



Senin, 16 Agustus 2010

Kenyataan

Hidup ini sudah hancur. 
Semuanya berantakan. 
Sejak awal memang sudah begini. 
Hancur berantakan. 
Tapi aku menyimpan sedikit harapan kecil yang sederhana. 
Kalau boleh, aku ingin kau selalu tersenyum saat melihatku. 
Agar kehidupan bobrok yang kujalani ini tidak segera membunuhku. 
Agar dunia yang aneh ini bisa lebih kumengerti. 
Bolehkah aku memiliki harapan itu? 
Hanya sekedar harapan , tidak lebih. 
Karena aku tahu, orang hina tak pantas berharap banyak.




Rabu, 11 Agustus 2010

Mungkin Aku Akan Menyerah

Bukankah kau telah melihatnya?
Aku melakukannya.
Tangan kananku memegang bara api itu di depanmu dan teman-teman kita.
Semua itu demi dirimu.
Meski aku harus merasakan sakit dan terluka.
Tapi mengapa kau begitu?
Aku tak tahu harus berkata apa lagi.
Aku tak tahu harus bagaimana lagi.
Kepalaku pusing.
Mungkin aku akan menyerah.