Minggu, 14 Februari 2010

Entahlah....!

Entah apa pikiranku.
Entah apa isi hatiku.
Entah apa yang kumau.
Entah apa aku begini.
Entah apa dan kenapa.
Entah apa yang harus kulakukan.
Entah apa arti hidupku.
Entah apa dan siapa aku.
Entah apa yang telah terjadi.
Entah apa.
Entahlah....!




Jumat, 05 Februari 2010

Tangisan Diiringi Hujan

Awalnya malam itu hanya kelam.  Semilir angin menggoyang dedaunan perlahan dengan indah. Namun, tiba-tiba gerimis memecah hening.  Tanah mulai basah dan rumah-rumah mulai menutup jendela.  Gemericik suara hujan terdengar risau.  Dari langit, terlihat sebuah rumah tidak menutup jendelanya.  Jendela rumah reyot itu dibiarkan terbuka begitu saja.  Tak ayal, tetesan air hujan masuk membasahi bagian dalam jendela itu.  Rupanya jendela itu, tepat di sebelah meja belajar.  Air hujan membasahi tempat pensil, buku-buku dan peralatan tulis lainnya yang berserakan di sana.  Di atas meja berwarna krem itu tampak bersandar seorang remaja.  Kepalanya menempel pada meja di atas sebuah kertas.  Tangan kanannya memegang sebuah pena. Tangan kirinya terkulai lemah.

Ia menangis.  Kertas di bawah pipinya basah dan koyak.  Entah karena air mata atau air hujan.  Seperti hujan gerimis di luar, air mata itu mengalir.  Dengan sedikit tersedu yang menunjukan betapa dalamnya derita yang ia rasakan, dia menangis tanpa berkedip sambil menatap sebuah foto.  Dalam sebuah bingkai kayu cokelat yang menghiasi gambar dua orang yang beseragam putih abu-abu.  Matanya memandang lekat bersamaan air mata yang terus keluar dari kedua pelupuk matanya.  Air mata itu membuat tulisan di kertas memburam, walaupun masih dapat dibaca apa isinya.

          "Kalau saja...
            Aku tidak bertemu dengannya...
            Mungkin...
            Aku sudah memilih jalan yang lain..."

Kini ia meletakkan kedua tangannya di atas meja.  Kertas itu menjadi sedikit robek.  Ia menunduk bersandar pada lengan.  Tangisannya terdengar lebih dalam.  Lebih menyakitkan.  Tangisan itu tertahan-tahan.  Tangisan itu terdengar sangat pilu.  Siapapun yang melihat atau mendengarnya pasti akan tersentuh hatinya.  Meski orang yang kasar sekalipun.

Ia masih menangis.  Tangisan yang menyayat.  Tapi tangisan itu kalah oleh suara hujan yang kadang diselingi kilat yang menerangi tubuhnya yang kurus.  Ia masih juga menangis.  Sepertinya ia mengalami suatu  hal yang sangat menyedihkan.  Tak ada orang lain di sana.  Ia menangis sendirian.  Menangis sendirian.  Menanggung luka hati yang entah apa.  Rasanya dia benar-benar menderita sekali sampai menangis seperti itu.  Entah kejadian apa yang melukainya.  Entah apa yang begitu menyakitinya.  Yang jelas ia masih tetap menangis.  Luka hati memang tak bisa diobati.

Lalu ia bangun dan mengambil foto itu.  Ia juga mengambil cutter yang tergeletak di samping pensil dan penggaris.  Ia menatap foto itu lagi.  Lalu ia menghela nafas dan memejamkan mata.  Ia menyayat urat nadi tangan kirinya yang memegang foto kemudian ambruk.  Darah mengalir menggantikan air mata.  Darah itu juga membasahi kertas tadi dan menutupi tulisannya.  Tangannya masih menggenggam foto itu.  Hujan masih turun di luar sana.  Seolah ikut bersedih suara hujan terdengar lirih.  Masih terdengar sisa tangisan itu sebelum berhenti sama sekali pada akhirnya.




Senin, 01 Februari 2010

Kata(nya) Sahabat(?)

Kata(nya) sahabat itu setia.
Nyatanya berkhianat.

Kata(nya) sahabat itu selalu ada
Nyatanya  semua masing-masing.
Kata(nya) sahabat itu janji.
Nyatanya tak pernah menepati.

Kata(nya) sahabat itu abadi.
Nyatanya melupakan




Meratapi Nasib

Aku berjalan di atas kaki dan hati yang sangat letih.

Meratapi nasib.

Oh, nasib. Mengapa diriku begitu malang? 

Tapi tak juga kutemukan jawaban dan akhir




Kumpulan isi hatiku yang berserakan

Telanjur banyak pikiran.

Rasanya ingin sekali menangis.

Aku sangat bersedih.

Bukankah hubungan itu juga bisa diputuskan?

Orang yang selalu tertawa bahagia setiap hari memang bisa berkata seperti itu.

Semua telah berakhir. Ingat! Ikatan itu telah diputuskan karena memang tidak ada pengorbanan untuk membuktikan rasa itu.

Bodoh juga ada batasnya. Ikatan yang membosankan itu sudah berakhir. Kau sudah memutuskannya. Kau hanya melakukan apa yang kaumau. Egois sekali. Tidak memikirkan aku. Hanya memikirkan diri sendiri saja. Kesenangan dan kebahagiaan sendiri.

Luka yang harusnya dapat terobati. Luka yang kuharap tak terjadi. Yang membuatku rusak dan hancur. Aku memang berniat mati. Tapi tak juga mati. Padahal aku bosan hidup. Karenamu, denganmu atau tanpamu. Kau bahkan tak ingin kumenyayangimu. Tapi itu bukan salahmu.




Jumat, 22 Januari 2010

Janji itu

Janji itu tak akan kulupakan.
Janji kita di malam yang kelam itu.
Janji ikatan kita selamanya.

Aku sangat bahagia dengan janji itu.
Aku pun mengikat janji itu di hatiku.
Aku tahu janji laki-laki tak akan bisa ditarik lagi.

Tapi kenapa kau mengingkari janji itu.

Apa kau lupa dengan tautan jari kita tanda perjanjian abadi itu?
Apa kau lupa dengan ucapanku dan ucapanmu?

Kenapa kau meninggalkanku sendirian?
Kenapa kau pergi?
Kenapa kau mati?



Kamis, 07 Januari 2010

Menyerahkan Pengaturan Pada Allah

Maqam tertinggi dari seorang Salik (Penempuh Jalan Rohani) adalah ketika secara bulat menyerahkan seluruh urusan hidupnya pada Allah. Siapa pun yang menyerahkan pengaturan dirinya kepada Allah, maka Allah SWT akan memberikan pengaturan terbaik untuknya (al-Tanwir fi isqath al-Tadbir karangan Ibn AthaiLlah).
Bentuk berserah diri kepada Allah persis seperti awal shalat. Takbir berarti mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Besar. Laa Quwwata illa biLlahi. Doa iftitah mengajarkan untuk menyerahkan seluruh diri kita, fisik, perasaan dan pikiran, kepada Pencipta langit dan bumi, dan agar kita termasuk dalam orang yang lurus dan berserah diri (haniifan musliman) dan bukan termasuk orang yang musyrik. Selanjutnya menandaskan bahwa seluruh shalat, ibadah, hidup dan mati hanya untuk Allah Rabb semesta alam, dan kita tidak pantas menyekutukan dengan sesuatupun, dan demikianlah kita diperintahkan dan semoga kita termasuk orang yang berserah diri.
Sadari sikap ini dengan sepenuh pikiran dan perasaan, siap diatur oleh Allah SWT. Hanya Allah tempat bergantung sedangkan diri kita tidak ada apa-apanya. Ketika kita menggantungkan hanya kepada Allah (1) dan kita menisbikan diri (0) maka kita jumpai 1 dibagi 0 adalah tidak terhingga.
Seorang ustadz ditanya oleh jamaah pengajian ibu-ibu, “apa hukumnya melahirkan dibantu dokter pria sedangkan ada dokter wanita?”. Sang ustadz mengatakan, “Bayi gajah jauh lebih besar dari bayi manusia, dan lubang keluar bayi gajah tidak lebih besar dari lubang keluar bayi manusia, tetapi tidak ada bayi gajah dilahirkan Cesar. Sedangkan manusia sekarang lebih 50% melahirkan bayinya dengan Cesar”.
Ketika manusia bergantung dan mengandalkan kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusan dan hasilnya pada apa yang ia gantungi. Selanjutnya hidupnya hanya akan mengikuti kaidah sebab-akibat belaka, yang lemah tidak memiliki kekuatan apa-apa.
Sebaliknya, dengan mengandalkan pertolongan Allah berarti kita mengandalkan kekuatan yang tak terhingga sebagaimana nabi Musa menyeberangi laut Merah, nabi Ibrahim tidak terbakar api, umat Islam mampu memimpin peradaban dunia selama 700 tahun, dan Rasulullah SAW dari seorang diri hingga kini lebih dari 1,5 miliar manusia beriman kepada Allah SWT.
Bagaimana prakteknya?
Menyerahkan pengaturan pada Allah berarti menempuh jalan Allah. Jalan lurus, jalan yang Allah berikan nikmat, jalan para nabi, shiddiqiin, jalan para syuhada dan orang-orang shalih. Siapa yang menempuh jalan ini akan mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan hakiki, menjumpai surga dunia sebelum pada akhirnya memasuki surga akhirat yang abadi.
Menyerahkan pengaturan kepada Allah berarti tidak akan mengambil jalan yang tidak diridhai Allah, memaksakan segala cara untuk memuaskan nafsunya semata.
Menyerahkan pengaturan pada Allah berarti melakukan ikhtiar secara maksimal. Ia menyadari bahwa, setelah menyerahkan pilihan hidup dan pengaturan urusannya kepada Allah, kewajibannya hanyalah menjalankannya dengan sepenuh tenaga, segenap pikiran dan kesungguhan. Barulah ia boleh tawakal dengan ikhlas dan penuh ridha, mengembalikan hasilnya kepada Allah. Dan selanjutnya kembali siap mendapatkan arahan untuk pengaturan selanjutnya.
Menyerahkan pengaturan kepada Allah bukanlah menjadi berkinerja rendah. Sebagaimana, salah satu definisi zuhud, sebagai salah satu sifat utama seorang salik, adalah “hariitsun ‘ala maa yanfa’uh” atau getol bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat. Hal ini menjelaskan bahwa, orang yang bekerja dengan motivasi keimanan seharusnya melahirkan kinerja yang jauh melampaui orang yang bekerja dengan motivasi keduniaan.
Serahkan pengaturan pada Allah dan bersiaplah memasuki Dimensi Quantum (Dimensi Keimanan) yang luar biasa. Bersiaplah menyaksikan kuasa Allah wujud dalam keseharian kita. Bersiaplah menempuh jalan spiritual yang berisi kenikmatan hakiki. Allahu a’lam




Sabtu, 02 Januari 2010

SEORANG ADIK

Kumohon teman-teman...
Janganlah engkau menyalahkannya...
Biarlah ini kutanggung sendiri...
Aku ini kakaknya...
Tahukah kau?
Kalau kita tidur sekasur yang sama berdua, kita jadi saudara...
Mulai saat itu, Dia adalah adikku...
Seorang adik...
Terserah kau mau bilang apa....
Walau harus mati, aku akan menyayanginya...
Aku benci siapapun yan menghinanya....
Aku akan menerima masa depan seperti apapun juga...
Akan aku pasrahkan luka yang akan menimpaku...
Akan kurelakan sakit yang perih sekalipun...
Aku tak mau kehilangannya...